Review Makanan Sate Memeng Khas Medan
Review Makanan Sate Memeng Khas Medan. Sate Memeng tetap jadi salah satu kuliner ikonik Medan yang paling dicari wisatawan dan penduduk lokal di awal 2026. Berbeda dengan sate biasa, sate ini terbuat dari daging sapi yang dicincang kasar, dibumbui rempah khas Sumatera Utara, lalu ditusuk tipis-tipis dan dibakar dengan arang. Ciri khasnya adalah tekstur daging yang empuk tapi masih ada gigitan, bumbu kacang yang kental gurih-manis, serta sambal andalannya yang pedas menyengat. Di Medan, sate Memeng bukan sekadar camilan malam—ini makanan wajib yang selalu ramai, terutama di malam hari. Review jujur ini kupas realitasnya: dari rasa autentik, tempat hits, hingga tips biar pengalaman makanmu maksimal tanpa kecewa.
Sejarah dan Asal Usul Sate Memeng
Nama “Memeng” berasal dari nama pendirinya, Haji Memeng, yang mulai jualan di kawasan Petisah sekitar tahun 1970-an. Awalnya hanya gerobak kecil, sekarang sudah jadi waralaba kecil-kecilan dengan beberapa cabang. Rahasia utamanya ada di pemilihan daging sapi muda yang masih segar, dipotong kasar (bukan halus seperti sate padang), lalu direndam bumbu minimal 4–6 jam sebelum dibakar. Bumbu kacangnya dibuat dari kacang tanah goreng, cabai merah, bawang, kemiri, dan gula merah—rasanya lebih kental dan sedikit manis dibanding sate Madura atau sate taichan. Sambal lado mudo (sambal hijau) jadi pelengkap wajib yang bikin pedasnya nendang. Di 2026, sate Memeng masih mempertahankan resep turun-temurun ini, meski beberapa cabang mulai modifikasi sedikit untuk selera anak muda.
Rasa dan Tekstur yang Jadi Andalan
Daging sate Memeng empuk tapi tidak lembek—ada tekstur kenyal yang bikin nagih saat digigit. Bumbu perendamnya meresap sempurna, jadi setiap tusuk punya rasa rempah yang kuat tanpa terlalu asin. Bumbu kacangnya kental, gurih, dan punya aftertaste manis gula merah yang pas. Sambal hijau (lado mudo) terbuat dari cabai hijau, bawang, jeruk nipis, dan garam—pedasnya segar dan langsung naik ke kepala, cocok buat yang suka level pedas tinggi. Porsi standar biasanya 10–15 tusuk dengan lontong atau ketupat, plus irisan timun dan bawang merah. Harga per porsi di 2026 berkisar Rp25.000–Rp40.000 tergantung lokasi dan jumlah tusuk—masih sangat terjangkau untuk kualitasnya. Banyak yang bilang sate Memeng ini “rasa Medan banget”: kaya rempah, pedas, dan bikin keringat bercucuran.
Tempat Hits dan Rekomendasi Cabang Terbaik Sate Memeng
Cabang legendaris di Jalan Irian Barat (dekat Petisah) masih jadi nomor satu—antrean panjang hampir setiap malam, terutama Jumat dan Sabtu. Cabang di Jalan Mojopahit dan Jalan Sisingamangaraja juga ramai, dengan suasana lebih luas dan parkir mudah. Di 2026, cabang baru di kawasan Sunggal dan Amplas mulai populer karena lebih bersih dan punya AC. Tips: datang setelah maghrib (sekitar pukul 19.00–22.00) karena sate paling enak saat baru dibakar. Hindari siang hari karena stok daging terbatas dan kadang sudah habis sebelum sore. Beberapa cabang kini punya varian sate ayam atau sate kambing, tapi purist Medan tetap pilih sate sapi asli.
Kelebihan dan Kekurangan Nyata
Kelebihan terbesar: rasa autentik yang konsisten, harga murah untuk kualitas tinggi, dan porsi yang bikin kenyang. Sambalnya pedas segar, bumbu kacangnya nggak terlalu manis berlebihan, dan dagingnya selalu empuk. Cocok untuk makan malam bareng keluarga atau teman. Kekurangan: tempat makan sering panas dan berasap karena dibakar langsung di depan, antrean panjang saat ramai, dan kadang pelayanan lambat kalau lagi penuh. Beberapa cabang kurang higienis (meja lengket, sendok garpu plastik), meski yang legendaris sudah lebih baik. Bagi yang nggak tahan pedas, sambal hijau bisa bikin keringetan berat—minta versi mild kalau perlu. review makanan
Tips Biar Makan Sate Memeng Maksimal
Datang malam hari, pesan minimal 15 tusuk per orang supaya puas. Tambah lontong atau ketupat supaya lebih kenyang. Minum es teh manis atau es jeruk nipis untuk netralisir pedas. Bawa tisu basah atau hand sanitizer karena makan pakai tangan. Kalau mau foto estetik, pilih cabang yang punya neon sign atau lampu kuning khas Medan. Hindari weekend kalau nggak suka antre panjang—datang weekdays lebih santai.
Kesimpulan
Sate Memeng tetap jadi kuliner wajib coba saat ke Medan—rasanya autentik, pedas nendang, dan harganya ramah kantong. Di 2026, meski ada banyak makanan hits baru, sate ini masih bertahan sebagai comfort food nomor satu bagi orang Medan dan wisatawan. Tekstur daging empuk, bumbu kacang gurih, serta sambal hijau yang bikin ketagihan membuatnya beda dari sate daerah lain. Kalau ke Medan, jangan pulang sebelum nyobain sate Memeng asli—siapkan perut kosong dan selera pedas tinggi. Selamat menikmati, dan semoga nambah satu lagi daftar makanan favoritmu!
