Review Makanan Pizza Margherita
Review Makanan Pizza Margherita. Pizza Margherita tetap menjadi ikon kuliner Italia yang paling sederhana tapi memikat hingga akhir 2025. Dengan hanya tiga topping utama—tomat, mozzarella, dan basil segar—pizza ini mewakili warna bendera Italia: merah, putih, dan hijau. Legenda menyebutkan dibuat pada 1889 di Napoli untuk Ratu Margherita dari Savoy oleh pizzaiolo Raffaele Esposito, meski variasi serupa sudah ada sejak abad ke-18. Kini, di era tren pizza fusion dan topping inovatif, Margherita justru makin dihargai karena kesederhanaannya yang menonjolkan kualitas bahan. Review ini bahas mengapa pizza klasik ini masih jadi benchmark rasa autentik, terutama saat banyak versi homemade atau restoran lokal semakin populer. BERITA BOLA
Sejarah dan Makna di Balik Kesederhanaan: Review Makanan Pizza Margherita
Pizza Margherita bukan sekadar makanan, tapi simbol budaya Napoli. Cerita populer mengatakan Raffaele Esposito menciptakannya khusus untuk ratu yang bosan dengan hidangan Prancis mewah—ia pilih tomat San Marzano segar, mozzarella dari susu kerbau, dan daun basil untuk hormati bendera Italia yang baru bersatu. Meski beberapa sejarawan ragukan detail kunjungan ratu itu, resep serupa sudah tercatat sejak 1790-an dengan topping tomat, keju, dan herbs. Pada 2017, seni pembuatan pizza Napoli bahkan diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Di 2025, Margherita jadi reminder bahwa rasa terbaik sering datang dari bahan minimalis berkualitas tinggi, kontras dengan tren pizza overload topping seperti hot honey atau fusion Korea.
Bahan dan Rasa yang Harmonis: Review Makanan Pizza Margherita
Inti kelezatan Margherita ada pada bahan premium. Tomat San Marzano beri saus asam-manis alami yang pekat, mozzarella fior di latte atau buffalo melt creamy tanpa berlebih, sementara basil segar tambah aroma herbal segar yang meledak saat digigit. Crust tipis Neapolitan dengan cornicione mengembang dan sedikit charred dari oven kayu 485 derajat Celsius dalam 90 detik hasilkan tekstur luar renyah dalam lembut. Rasa keseluruhan seimbang: umami dari keju, kesegaran tomat, dan sentuhan minyak zaitun extra virgin. Saat dimakan panas, keju stringy dan basil harum bikin setiap gigitan addictive—sederhana tapi mendalam, tanpa perlu tambahan seperti pepperoni atau jamur yang sering overpower varian lain.
Eksekusi dan Variasi di Era Modern
Autentik Margherita patuhi aturan ketat: dough hanya tepung, air, garam, ragi dengan fermentasi panjang; dipanggang cepat di oven tinggi. Di rumah, versi homemade pakai oven biasa tetap enak asal crust tipis dan bahan segar. Di 2025, tren kembali ke akar dengan frozen atau supermarket Margherita yang fokus kualitas sauce dan cheese alami, meski ada inovasi seperti cauliflower crust untuk healthier option. Namun, yang terbaik tetap versi tradisional—crust bubbly, sauce tidak terlalu manis, basil ditabur setelah panggang agar tidak layu. Kelemahannya? Jika bahan kurang fresh, rasa bisa hambar; tapi saat pas, Margherita unggul karena tak ada yang menyembunyikan kekurangan.
Kesimpulan
Pizza Margherita adalah masterpiece yang bukti less is more—dengan bahan sederhana tapi berkualitas, ia tawarkan rasa autentik Italia yang timeless. Di tengah banjir tren pizza 2025 seperti fusion atau gourmet topping, Margherita tetap favorit karena harmoni rasa segar, creamy, dan herbal yang sulit ditiru. Cocok untuk purist atau pemula yang ingin nikmati pizza murni tanpa distraksi. Coba versi autentik atau buat sendiri dengan tomat matang dan basil segar—dijamin setiap slice bikin rindu Napoli. Klasik ini bukan tren sementara, tapi standar emas yang akan terus bertahan.
